Selalu ada masalah di dunia ini. Terutama ekonomi. Juga politik. Apalagi kalau digabung: ekonomi politik. Atau kebijakan ekonomi yang biasanya terkait politik. Ruwet.
Saya -sebagaimana banyak ekonom lain- percaya dengan adagium “people respond to incentives”. Insentif adalah alasan paling reasonable yang membuat orang melakukan sesuatu. Pun government.
Terlalu banyak contoh yang bisa diambil. Misal, pemerintah ingin mendapatkan kenaikan penerimaan dengan menerapkan pajak progresif mobil non-niaga berdasarkan besaran cc-nya. Tresholdnya adalah 1500 cc. Di atas itu, pajak naik secara signifikan. Insentif pemerintah: mendapatkan tambahan pendapatan dari pajak kendaraan bermotor.
Respons konsumen: mencari mobil2 berukuran maksimal 1500 cc. Insentif: penghematan pajak.
Respons produsen mobil: membuat lebih banyak varian mobil 1500 cc termasuk menggusur tipe 1600 cc yang dulu sangat populer. Insentifnya: menangkap peluang pasar (profit).
Nah, dalam “permainan” aksi-reaksi ini, siapa yang akhirnya kalah-menang bisa berbeda2, bisa pemerintah, bisa konsumen, bisa produsen. Tetapi umumnya perilaku manusia berbasiskan alasan ekonomi, ingin mencapai tujuan yang menguntungkannya.
Seharusnya, semua berjalan pada koridor ini. Tetapi mengapa kita saksikan banyak kegagalan economic policy? Banyak sekali malah. Kenaikan BBM yang diikuti kelangkaan dan trickle down effect sangat besar, program asuransi keluarga miskin yang agak kacau, dan sekarang: harga tempe-tahu yang melambung.
Logika sederhananya dari sisi pemerintah ada 2: entah pemerintah tidak mau memperhitungkan respons yang mungkin terjadi, atau pemerintah desperately mengabaikan hal ini karena merasa tidak punya policy lain yang lebih bijak tapi perlu keringat buat melaksanakannya.
Buat konsumen (read: rakyat), saya punya tips. Jika anda merasa hopeless dengan pemerintah anda, maka pilihan anda adalah: menekan pemerintah dengan demo, atau mengubah perilaku anda. Believe me, the latter is all government wants. Jika tempe-tahu mahal karena harga kedelai dunia melambung, maka anda berhentilah makan tempe-tahu. Dengan demikian permintaan komoditi ini akan menurun, dan harga perlahan akan menyesuaikan.
Itu kalau anda pilih yang kedua. Kalau yang pertama? silahkan demo, lobi, teriak, atau apalah… in many cases, pemerintah kita sangat peduli dengan citranya, maka akan melakukan apa saja demi meredam kemarahan publik (insentif jaim politis). Kalau perlu pemerintah kita akan menyubsidi harga kedelai atau sekalian harga tempenya
Does it help our economy?
Sebagai orang yg pernah belajar ekonomi, saya akan jawab: no.
Dengan berjalannya waktu, manusia dan kehidupannya berubah. Apakah kita akan melawan perubahan itu berapapun ongkosnya? Ataukah kita beradaptasi dengan perubahan?
Dengan tetap mengkonsumsi tempe pada saat produksi keledai kedelai (kok dari tadi salah ketik melulu..) turun, secara sederhana kita melawan perubahan. Tentu saja, jika cukup banyak manusia di planet ini yang mampu membayar harga kedelai cukup tinggi, akan muncul usaha untuk memenuhinya (profit incentive) sampai tercapai lagi keseimbangan permintaan dan penawaran. Tetapi jika konversi lahan untuk pasar non-food (bio-fuel yang lagi trend nih) masih menawarkan profit yang lebih tinggi, maka harga mahal ini akan tetap bertahan. Dan sebagai konsumen tempe, apakah anda akan bertahan membeli tempe sepotong yang seharga daging steak?
Tapi hidup di negara demokratis, anda punya pilihan mau membelanjakan uang anda buat tempe atau daging atau dugem. Saya percaya kalau anda melakukannya juga berdasarkan insentif: jika kepuasan makan tempe lebih tinggi daripada makan daging atau dugem, maka anda akan melakukannya, vice versa.
*saya suka tempe, tapi tetap bisa hidup tanpa tempe*
[...] Respons! (pemerintah vs rakyat on tempe) Selalu ada masalah di dunia ini. Terutama ekonomi. Juga politik. Apalagi kalau digabung: ekonomi politik. Atau kebijakan ekonomi yang biasanya terkait politik. Ruwet. Saya -sebagaimana banyak ekonom lain- percaya dengan adagium “people respond to incentives”. Insentif adalah alasan paling reasonable yang membuat orang melakukan sesuatu. Pun government. Terlalu banyak contoh yang bisa diambil. (more…) [...]
Ping balik oleh Indonesia » Blog Archive » Labor Unions - Indonesia Matters — Januari 15, 2008 @ 5:49 pm
bagaimana kalau membiarkan harga kedelai/tempe tetap mahal dan langka, tak usah buru2 import dan bebaskan import duty. siapa tahu nanti lahan yang sudah dikonversi ke biofuel akan dikonversi balik ke tanaman kedelai karena lebih menguntungkan. mungkin jadi seimbang sendiri. hehehe.
Komentar oleh isadikin — Januari 18, 2008 @ 12:37 pm
@isadikin
mestinya begitu.. petani juga akan merespons insentif profit yang tertinggi.
tapi pemerintah kan takut rakyat ngamuk. ini solusi jangka pendek, demi orang2 yg rigid dalam merubah perilaku.
Komentar oleh konsultan ga login — Januari 21, 2008 @ 12:31 pm