Kira-kira setengah tahun ini, saya menahan diri untuk tidak membalas email2 di berbagai milis yang saya ikuti. Atas dasar beberapa pertimbangan:
1. Reply dari saya biasanya akan ditanggapi panjang. Di beberapa milis, karena respon saya dianggap di luar mainstream, biasanya saya seperti dikeroyok. Bukan saya takut dengan cecaran puluhan pertanyaan atau bahkan hujatan. Hanya kemudian saya menyadari, it takes too much time to respond them. Duh, sayang waktu harus dihabiskan memelototi laptop dan alih2 mengetik laporan riset, saya malah harus berdebat dengan orang2 yang tidak jelas.
2. Adanya gap yang biasanya cukup lebar mengenai pemahaman fungsi ekonomi dan politik antar berbagai segmen masyarakat. Bukannya sombong, ilmu ekonomi itu sebenarnya sama saja dengan ilmu teknik atau sains, tanpa memahaminya lewat serangkaian metode pembelajaran dan buku2 standar yang harus dimengerti, tidaklah mudah menangkap isi dan seluk-beluk ilmu tsb. Bedanya adalah, kalau kita tahu sedikit mesin mobil, kita mungkin tidak berani berkoar2 soal permesinan dan teknologi fuel cell. Tetapi tahu sedikit soal ekonomi – dengan membaca sedikit buku ekonomi palsu populer – banyak yang sangat pede untuk bicara bahkan memberi solusi kebijakan ekonomi.
Kalau ilmu politik, selain memerlukan metode pembelajaran, banyak sekali informasi asimetris alias informasi yang tidak terungkap ke semua pihak. Tahukah anda bahwa kenapa presiden memutuskan A? Tentunya banyak orang klaim bahwa itu karena presiden kita bodoh, atau presiden ingin X, atau presiden dibohongi stafnya, atau…. padahal yang bilang ini-itu mungkin ngga tau apa2 sama sekali apa yang sebenarnya terjadi…
Dengan gap yang lebar itu, in short: cape deh harus menjelaskan berulang2… dan endingnya tetap sama: ga sepakat, saya dianggap bodoh dan ngga ngerti ekonomi, saya dianggap antek kapitalis, atau yang paling top: bagian dari konspirasi yahudi
3. Terkait no.2, bahasan paling top dan berbusa2 ujung2nya bermuara pada: teori konspirasi (TK). Dan semua mereka puas. Jangan heran, di milis2 yang isinya alumni institut dan universitas top, masih banyak yang demen banget sama TK. Seakan puas kalau sudah berhasil menimpakan semua keterpurukan, keburukan, dan kesontoloyoan Indonesia pada mahluk yang bernama TK ini. Entah konspirasi Amerika-Yahudi, Amerika-presiden, atau Jepang-Alien… pokoknya orang Indonesia itu sebenernya baik2, pinter2, ramah2… cuma selalu sial dijahati oleh orang2 londo dan jepun. Puassss….. Menurut penelitian pengalaman, mayoritas ending diskusi economic policy akan berakhir di situ… jadi jangan berharap dapat pencerahan hehehehe…
4. Paradoksial. Di satu sisi, seneng banget mengait2kan suatu fenomena dengan hal2 rumit dari TK. Di sisi lain, over simplify terhadap pendapat yang berbeda: anda antek pemerintah. Perbedaan pendapat telah direduksi menjadi 2 kutub: either you are with us or against us (eh jadi inget si Bush brengsek). Kalau anda mengemukakan beberapa poin bagus dari kebijakan pemerintah, maka anda akan dituduh sebagai pendukung pemerintah … atau lebih lucu lagi: anda dianggap sebagai pihak yang diuntungkan secara materi dari proyek pemerintah (ga nyambung abisss). Tanpa mau tahu logika dan sistem yang coba diterangkan.
5 . Semua yang berbau pro kebijakan pemerintah dianggap salah. Padahal saya ingat sekali ada lebih banyak kritik saya terhadap kebijakan pemerintah dibanding pujian, tapi sekalinya mendukung langsung dicap pro-pemerintah. Yang cool adalah yang selalu melawan kebijakan pemerintah. Lupa kali, kalau mereka mengecam kebijakan pemerintah (yang dipilih secara demokratis) merekalah biasanya yang menggagalkannya, setelah gagal, merekalah yang akan mengecam lag: tuh pemerintah gagal. Apa maunya ya?? Ada-ada saja…
6. Dalam kasus konflik: yang lain pasti salah, tapi rakyat selalu benar. Ngga peduli itu cerita rakyat nyolong kabel PLN, rakyat membuang sampah di kali dan menempati ruang yang bukan haknya, atau rakyat yang mengeroyok aparat. Pokoknya yang dianggap “kecil” mesti dibela habis2an. Jadi ingat cerita supir taksi kemaren: temannya jalan pelan dan ditabrak motor yang dikendarai secara ceroboh oleh anak kecil. Apa yang terjadi? Mobil taksinya dirusak hampir dibakar, sopirnya digebukin, dan dipalak…. oleh rakyat kecil.
Dengan semua alasan tsb, saya benar2 berusaha mendisiplinkan diri untuk tidak menulis repsons dalam milis, walau kadang gemes banget baca analisis asbun. Karena harapan saya dalam berdiskusi sebenarnya adalah mendapatkan insights dari pendapat2 orang lain, yang mungkin tidak saya pikirkan sebelumnya… istilahnya pencerahan. Tapi yang ada malah cape deh…
Next post, saya akan kutip beberapa postingan lucu dari berbagai milis.
hmmm…apa itu artinya, kita kudu memahami segala sesuatu sebelum ngomong mbak?
Komentar oleh mataharicinta — Desember 6, 2007 @ 2:20 pm
@mataharicinta
apa kabar? sudah lulus ya?
tidak harus memahami kalau niat kita berdiskusi atau bertanya.
Tapi kalau niatnya mengritik atau memberi solusi, ya mesti paham dong. Nanti di posting2 selamjutnya saya kopipes beberapa contoh. Saya sendiri sering bertanya diberbagai forum ttg hal2 yang saya tidak paham, dan saya menghindari sok memberikan solusi yang saya klaim benar (karena memang saya belum paham sekali).
Komentar oleh konsultan — Desember 6, 2007 @ 2:52 pm
hey, keren nih
sepertinya kita sama-sama muak dengan hal-hal semacam ini..
Komentar oleh Ade — Desember 7, 2007 @ 4:19 pm
Kebebasan berpendapat ya resikonya seperti itu, mas.
Ya biarkanlah orang-orang yang tak berilmu. Toh orang bisa nilai dari cara ngomong dan argumentasi mereka. Ga usah diladeni kalu ga mau.
Ayo semangat terus menyebarkan analisa dan informasinya.
Komentar oleh hariadhi — Desember 27, 2007 @ 8:32 pm
Pernah juga kejadian kayak gitu. tapi mendingan ditanggapi seperlunya aja. Emangnya kalau kita ngotot mereka bisa berubah pikiran?
Komentar oleh Mardies — Januari 15, 2008 @ 2:00 am