Alhamdulillah masih diberi nikmat bertemu ramadhan lagi.
Seperti biasa, ramadhan disini adalah ramadhan sunyi. Kami tidak termanjakan oleh hiruk pikuk puasa seperti puasa di tanah air yang seringkali lebih bermuatan komersial. Kadang kami menyebutnya: komoditisasi puasa. Mulai dari acara tv, belanja makanan, belanja baju, “dugem” di hotel2 yang mengundang penceramah top, sampe penyerbuan tempat2 yang dianggap maksiat dan memaksa orang takut dengan menghormati orang yang berpuasa.
Bersamaan dengan gegap gempita baju muslim berharga jutaan, mengirim makanan berbuka bersisipkan kartu nama ke panti asuhan, buka puasa bersama berharga ratusan ribu per kepala di resto2 mewah, mutiara hikmah di tv dan layar ponsel, sudah jamak pula kita sadari di bulan ini tetap terjadi: korupsi yang merajalela (duh mau lebaran, kebutuhan meningkat nih), topeng2 kemunafikan terpasang rapi (berbuka bersama pengajian kantor, malamnya ngamar bersama ayam kampus), belanja RT malah meningkat bukan hanya karena inflasi tetapi karena double demand, caci maki tak henti bertebaran di milis2, di koran2, menepuk dada dan merendahkan atau mengkambinghitamkan pihak lain.
Ramadhan disini, ramadhan sunyi. Kalau ingin sahur, bangunlah sendiri, berteman sunyi kami menikmati buah dan makanan sekedarnya. Kalau ingin mengaji, mengajilah di kamarmu sendiri. Jangan mengharap kolak hangat sebagai ta’jil di kedai2, ifthar kami adalah makan malam seperti biasa saja.
Tidak ada tidur2an di mushola mencuri waktu kerja sehabis zuhur dan asar. Tidak ada alasan menghindar pekerjaan fisik atau mengurangi beban kerja. You do your job as usual.
Ramadhan disini, ramadhan sunyi. Meski kadang kurindukan suasana hangat di tanah air, tapi disini kami tidak perlu topeng. Hanya Dia yang mendengar langkah sunyi kami.
Ramadhan disini, adalah masa pemberian informasi dan pembuktian bahwa puasa itu menyehatkan dan tidak mengurangi produktivitas. Bahwa kami gembira menjalaninya, bahwa kami tidak tersinggung jika dipertanyakan keyakinan kami, bahwa kami sedang belajar mengontrol hawa nafsu kami.
Ramadhan membuatku tersentak. Terlampau biasa aku memakai baju dosa dan kemunafikan. Ampuni ya Rabb. Terima kasih Kau berikan aku kesempatan berjumpa Ramadhan-Mu yang agung.
Note: Jangan tersinggung buat saudara2 di tanah air, hal di atas bukanlah generalisasi tetapi hanyalah fenomena kasat mata yang sering kita jumpai di tanah air. Tentu saya yakin banyak yang berpuasa dengan penuh hikmah dan kesederhanaan (saya malah masih harus belajar banyak sekali). Selamat berpuasa buat semuanya, maafkan jika ada kesalahan yang pernah saya lakukan.
*gembira karena -setelah bertahun2- tahun ini insya Allah bisa berlebaran di tanah air*

Selamat berpuasa juga mbak, kalo jadi pulang, kontak saja aku lewat sms
Komentar oleh itikkecil — September 17, 2007 @ 2:55 pm
Terima kasih. Selamat berpuasa juga. Insya Allah, saya kontak kalau sudah di Jakarta
Komentar oleh konsultan — September 18, 2007 @ 4:26 am
Selamat menikmati “komoditisasi” lebaran di tanah air
Btw, ndak kangen mbak dgm menu sahur di Indonesia??
Komentar oleh neen — September 26, 2007 @ 2:30 pm