Tidak lama lagi Ikatan Alumni Institut tertua di Indonesia akan berkongres dan melakukan Pemilu Ketua IA yang baru. Seperti di masa sebelumnya, pemilu IA ITB bukanlah sekedar pemilu ketua paguyuban alumni yang dijadikan ajang menggadang-gadang teman seangkatan buat dijerumuskan menjadi sang ketua. Pemilu IA ITB selalu menjadi ajang pertarungan kekuasaan: prestise dan perebutan massa. Berlebihankah? Tidak sama sekali. Kalau anda alumni atau petinggi parpol, anda pasti mahfum soal ini.
Di berbagai milis, angkatan muda nimbrung dengan segala kepolosannya: berharap banyak pada idealisme, pada suatu keakraban keluarga, pada sumbangan yang akan diberikan bagi almamater dan negara.
Di berbagai milis, calon2 ketua mulai menebar jaring pesona. Ada Betti Alisjahbana, Presdir IBM Indonesia. Ada Johand Dimalouw pensiunan petinggi Chevron. Ada Triharyo Soesilo, putranya pak Soesilo Sudarman, sekarang dirut PT Rekayasa Industri. Nama2 yang dipandang kagum oleh sebagian alumni muda. Role model. Sebagian lagi tidak habis pikir kenapa ada rumor bahwa dua menteri juga berminat? Kurang sibuk apa mereka? Mengapa IA ITB “harus” dipimpin menteri? (Saat ini Laksmana Sukardi yang menjabat sejak 5 thn yl).
Itu di milis.
Pertarungan sebenarnya ada di luar sana. Di kalangan aktivis parpol. Mencoba melobi berbagai alumni gerombolan unit kegiatan kemahasiswaaan yang basis massanya luas. Siapa yang bermain?
Hatta Rajasa. Sekarang Mensesneg. Anda taulah partai dibelakangnya apa. Tapi bukan partai ini saja yang mendukungnya. Beberapa pentolan PKS pun turut menggadang2 menteri ini.
Jusman SD. Menhub. Di pemilihan yang lalu, Pak Jusman mencalonkan dirinya setelah sebelumnya dg sukses dipecat dari Dirut IPTN oleh Laks yang jadi meneg BUMN. Ada yang bilang, kekalahan yang lalu memberikan Pak Jusman pelajaran dan pengalaman sehingga lebih siap bertarung kedua kalinya. Tapi sampai saat ini belum ada pernyataan resmi apakah Pak Jusman jadi ikut nyalon.
Rinaldi Firmansyah. Bossnya PT Telkom. Kabarnya digadang2 oleh salah satu pentolannya PKS yaitu LN.
Hotasi Nababan. Dirut Merpati. Anaknya pak Pdt DR SAE Nababan. Digadang2 oleh PDIP lewat O, mantan aktivis itb angkatan 80-an yang sekarang duduk di Senayan.
Walau sampai sekarang yang terus terang dan berkampanye secara terbuka di milis2 alumni hanyalah 3 orang yang pertama disebut, kami yakin para gajah ini tidak diam. Sibuk mengasah gading. Dan akan menggebrak begitu waktunya tepat.
Ada pertanyaan naif dari kami, alumni institut ini. Apa ya motif dominan mereka yang ingin menjadi ketua IA ITB?
Bu Betti Alisjahbana menjelaskan di situsnya mengenai motivasinya. Pak Johand juga ada menjelaskan di blognya.
Pak Triharyo (Hengki) tidak ketinggalan menjelaskan secara tidak langsung di sini dan sini.
Bagaimana dg Hatta, Jusman, Rinaldi, dan Hotasi? Sejauh ini masih diam di dunia cyber. Kata orang air tak beriak tandanya dalam. hiiiiyyy ngeriii…
Sebenarnya kenapa sih seorang yang super sibuk macam menteri atau presdir BUMN raksasa mau mengeluarkan uang, tenaga, dan waktunya buat berebut kursi ketua alumni dan kemudian harus (seharusnya) mengurus kegiatan organisasi ini selama lima tahun ke depan?
Alasan pertama: idealisme dan kelebihan energi. Dia pikir sebagai ketua IA dia akan bisa mewujudkan impian2nya dan ide2nya ttg membangun ITB.
Alasan kedua: prestise. Jabatan ini cukup bunyi di dunia bisnis dan politik Indonesia.
Alasan ketiga: menaikkan bargaining powernya. Dengan menjadi ketua, dia akan sangat bisa mempengaruhi organisasi yang cukup raksasa ini. Bisa mendekati atau malah “memegang” banyak pentolan tokoh. Ingat, banyak alumni yang jadi boss atau aktivis sos-pol. Arti instannya: pegang massa yang lumayan besar. Terus, so what?
Heyyy…. Pemilu sudah menjelang! Bukan pemilu IA ITB lagi yang akan dimasuki, tetapi Pemilu Indonesia royo 2009. Jabatan ketua IA ITB tentu cukup berharga buat nilai tawar-menawar kepada capres dan parpol peserta pemilu nanti. Bossnya dapet apa? Ah… lihat saja nanti…
Sebenarnya yang bikin kami agak jengkel bukan karena para gajah yang mulai belanja suara. Biarkan saja, kami pikir memang begitulah tabiat manusia. Dan dengan begitu kami sebagai non-partisan akan dengan senang hati memblacklist para pendekar partai tsb dari pilihan sebagai Ketua IA. Yang menjengkelkan adalah kawan2 alumni yang “terbeli”.
Huuuhhh kadang kami berpikir, kalau kita teriak benci korupsi tapi kok kita tidak woro2 diri sendiri dalam menerima “kebaikan” orang yang sedang pegang jabatan? Kami tidak bilang mereka belanja pake uang korupsi, tetapi harusnya kitalah menjaga diri kita agar tidak menarik mereka ke sana dan mendukung upaya penegakan clean governance.
Mungkin kami terlalu naif. Terserahlah. Kalau dibaca sama teman2 ex unit dulu, mungkin kami bakalan dimaki2 sok alim.. Hehehe… sama sekali bukan kawan.. hanya berusaha untuk tidak mengkhianati apa yang kami ucapkan: kami benci korupsi!
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Vivat ITB!
Salam Ganesha.

do do do doooo….. rame yah… asal jangan gajah bertarung, pelanduk mati ditengah huehuehue…
Comment oleh barista — Agustus 30, 2007 @ 2:48 pm
salah sendiri pelanduk kok jalan2 di tengah gajah berantem
jauh2 napa..
Comment oleh konsultan — Agustus 30, 2007 @ 3:54 pm
Siapapun OK! tapi harus bisa memajukan bangsa, khususnya ITB
Comment oleh atmo4th — Agustus 31, 2007 @ 11:18 am
@atmo
1. harus dipertimbangkan juga trade-off antara memajukan itb dg menggunakan iaitb sebagai kendaraan politik. jangan2 lebih dominan yang kedua hahaha….
menteri jadi ketua iaitb, kalo dipikir2 untuk apa sih? Setujuh dg posting ini yang bilang *kurang sibuk apa?*
2. saya berharap siapapun ketua iaitb mendatang, orang ybs tidak akan pernah terkait kasus korupsi langsung maupun tidak langsung (jangan spt Laks). Malu dong ITB
saya dengar salah satu petinggi sudah siap menggelontorkan dana buat pertemuan2 ikatan alumni unit yang besar2…. yang dibungkus dg istilah apapun. saya juga dapat undangan (masih mikir mau datang tp pake duit sendiri atau ngga usah sama sekali). smoga bukan uang hasil korupsi
Comment oleh alumni anak gajah — Agustus 31, 2007 @ 11:40 am
sayangnya saya bukan alumni ITB, jadi tak bisa ikut berkomentar. Namun kasus yang mirip terjadi juga di KAGAMA dimana saya jadi anggota. Ehmm bakal menarik untuk terus diikuti nih..
Btw thanks atas koreksi untuk pendidikan Adnan Oktar
Comment oleh rudyland — September 1, 2007 @ 10:57 am
@rudy: thanks atas komennya. kami sebenernya agak malas ngomongin ini, karena tampaknya ending of the story udah ketebak
yah, lihat sajalah nanti.
Kagama pemilu juga?
Comment oleh konsultan — September 2, 2007 @ 4:15 pm
knapa mesti ngebawa2 nama partey sih???
para calon khan orang itebe..
lulusan itebe mesti percaya diri, yakin..
gak perlu dukungan partey… yg penting tunjukin klo BISA!!!
ITB untuk ITB…
ITB untuk negara…
bukan untuk partey!!!
Comment oleh oRiDo — September 3, 2007 @ 4:52 pm
bukan minta dukungan partai kali ya… tapi justru memanfaatkan IA ITB buat kepentingan partai dan keuntungan/tujuan politis
Comment oleh alumni juga — September 3, 2007 @ 9:16 pm
kalow you you tidak suka ada partai, yaaa jangan milih calon yg ada tersangkut dengan partai atau jelas jelas politisi, termasuk Sekjend nya yg juga mungkin orang partai…
apalagi kalow sang calon beserta sekjend nya jelas-jelas punya ambisi jadi penguasa? mending gk usah ajah deh…
pelanduk mati, tetapi tetaap terhormat…
harimau hidup, tapi dengan dibarengi hati yg BUSUK buat apa???
Comment oleh tribas — September 8, 2007 @ 1:33 pm
[...] 20th, 2007 · No Comments Teringat saya akan postingan ini, dimana beberapa komentar mengindikasikan bahwa menggunakan organisasi (dalam hal ini ikatan [...]
Ping balik oleh PEMILU IA ITB (lanjutan): Kepentingan Pribadi vs Kepentingan Publik « Suatu Hari Dalam Hidupku — September 20, 2007 @ 2:51 pm
Ribut2 soal pemilu IA ITB, jadi inget banjir sms dari beberapa kandidat untuk buka bersama puasa kemaren.
Untuk urusan politik, apapun bisa jadi halalan thoyiban… sambil buka puasa, sambil lobby, siapa tau berhasil beli hati dan jual inspirasi..
. Hanya, harap diingat aja, dalam politik..tidak ada teman sejati… apalagi alumni sejati..hehehe..
Comment oleh amin_gea — Oktober 19, 2007 @ 4:34 pm
[...] Ketua IA ITB: Lanjutan Lanjutan dari 2 tulisan terdahulu di sini dan sinićsampe di Jakarta saya berkelana mendatangi teman2 lama dan acara2 temu kandidat. Kali ini [...]
Ping balik oleh Pemilihan Ketua IA ITB: Lanjutan « Suatu Hari Dalam Hidupku — November 12, 2007 @ 2:19 am