Suatu Hari Dalam Hidupku

Agustus 19, 2007

Kalau bisa CURANG, kenapa harus JUJUR?

Dari kontributor:

Suatu hari di tahun 2003

Aku menguap sambil memeriksa hasil ujian mahasiswa yang bertumpuk di mejaku. Hmm.. sebentar lagi selesai. Aku selalu mempunyai 3 kebiasaan pada saat memeriksa ujian:

Pertama, aku menuliskan jawaban setiap soal beserta bobotnya. Itu yang menjadi pegangan pemeriksaan. Maksudnya supaya aku memberi penilaian yang standar untuk semua mahasiswa.

Kedua, aku tidak melihat nama mahasiswa yg berkasnya sedang kuperiksa. Aku tidak ingin sedikitpun ada unsur subjektivitas dalam memberikan nilai (ah yang ini rajin, yg ini yg sering menegur, dsb…)

Ketiga, aku akan memeriksa tidak dalam keadaan emosional (kesal, marah, misalnya) dan sedapat mungkin menyelesaikannya sekali periksa.

Ketika memeriksa jawaban di berkas ketiga dari akhir tumpukan, aku merasa.. déjà vu. Jawaban ini, sudah pernah kubaca sebelumnya. Aku mencari2 di tumpukan yang telah kuperiksa. Got it. Here we go…

Ada 7 soal essay yang kuberikan. 3 diantaranya adalah soal wajib. Semua harus mengerjakannya. 2 sisanya adalah soal pilihan diantara 4 soal yang kuberikan. Dan 2 orang ini mengerjakan 2 soal pilihan yang sama. Dengan jawaban yang sama. Dan soal wajib dikerjakan seakan mereka adalah cloning berotak tunggal seperti Thomson and Thompson.

Heiii… who’s trying to fool me?

Aku lihat namanya. Satu adalah X, mahasiswa paling pintar di kelas itu, dan satunya Y, mahasiswa entahlah… saya kurang tahu prestasi dia. Tidak banyak mahasiswa kelasku saat itu, sekitar 20-30an. Ini kelas eksekutif malam pasca sarjana di universitas negeri di selatan Jakarta itu. Semua pesertanya adalah pekerja middle management di kantor masing2. Umur mereka sama atau bahkan lebih tua dariku.

Well, mereka tidak menulis titik koma yang sama, tetapi inti dan semua struktur jawaban adalah sama. Satu soal kalkulasi, X melakukan kesalahan kecil dalam hitungan, dan Y pun melakukan kesalahan yang persis sama.

Aku memeriksa Berita Acara Pelaksanaan Ujian. 2 pengawas ujian menandatangani laporan yang wajar. Tidak ada yang dilaporkan curang. Bahkan tidak ada yang permisi ke toilet saat ujian. Dua orang ini duduk berjauhan. Aneh kan?

Aku memutuskan memanggil kedua mahasiswa ini. Saat itu bulan Ramadhan. Aku tak ingin berpanjang2. Walau mereka berdua bersumpah2 dg nama Allah, aku tidak percaya. But hey, what else could I do? Selain kertas di tangan, sama sekali tidak ada bukti lain.

X pun menyatakan keheranannya. Dan aku bisa merasa, dia jujur. Aku bilang: aku akan serahkan masalah ini pada direktur program. Setelah itu bubar.

Besoknya aku serahkan berkas soal 2 orang ini ke direktur program. Dia tersentak dan mengakui bahwa tidak mungkin itu hasil kerja 2 orang independently. So, the case was filed. Penyelidikan mulai dilakukan.

Seminggu kemudian, ada kabarnya. Petugas bagian penyimpanan soal sebelum dikirim ke dosen yang ikut bermain. Menukar jawaban Y yang asli, dan Y –karena kemalasannya- bukannya mengerjakan sendiri (dg bantuan buku misalnya) tetapi nyontek punya X.

Singkat cerita. Y mendapat hukuman pengguguran semua nilai kreditnya semester itu dan suspend 1 semester (karena kesalahannya bukan sekedar nyontek di kelas, tetapi menyuap petugas). Petugas tsb, dipecat. Ini bukan kebijakanku, tapi kebijakan fakultas. Entah malu atau apa, Y kemudian memutuskan untuk keluar dari program ini.

Sooo…. Lanjut cerita kedua.

Suatu hari tahun 2002

Kami menghadapi ujian praktikum Ekonometrik. Tugasnya adalah menyelesaikan semua soal menggunakan program SAS. Tidak susah sebenarnya.. kalau belajar. Kami login dg ID masing2 dan mengerjakannya di intranet. Selesai. Ujian dilakukan di ruang kompi kampus, dimana semua kompi tentu saja terhubung ke internet.

Satu teman yang pintar dari Cina, ditanya jawabannya oleh teman Indonesia. Dan terdorong oleh keinginan menolong teman, maka teman ini mengirimkan semua jawabannya melalui imel ke semua teman.

Lupa bahwa professor bukanlah orang bodoh. Soal terakhir, database soalnya ternyata dibolak-balik urutannya sama pak prof ini. Sehingga menjadi unik untuk setiap ID. So, wuzzzz…. Setiap yang nyontek pasti ketauan.

Saat itu, hanya 4 orang yang bebas karena tidak nyontek: satu ce filipin, satu ce Thai, satu co Indonesia, dan aku sendiri. Sempat menjadi masalah sampai ke tingkat fakultas. Sesuai aturan universitas, seharusnya mencontek mendapat hukuman nilai F untuk semua mata kuliah semester itu. But hei, ini tidak masuk akal. Karena jika hal itu diterapkan, maka tidak ada yang bisa lulus master dalam waktu 2 tahun, dan akibatnya semua harus membiayai dari sumber pribadi SPP dan living costs di negeri mahal ini.

Setelah lobi dan lain2… akhirnya disepakati pemaafan sekali ini. Dg anggapan bahwa mahasiswa2 negara berkembang ini tidak sadar dengan aturan ketat plagiarism. Hahaha… Maka sejak itu semua mahasiswa harus menandatangi pledge bahwa mereka mengerti hal ini dan bersedia mendapat sanksi DO jika melanggarnya.

Lanjut lagi sedikit.

 

Suatu hari di tahun 2004

Aku mengawasi ujian pre-matrikulasi untuk mahasiswa baru. Tujuannya adalah melihat kemampuan matematika mereka. Yang mendapat nilai minimum 95 akan dibebaskan dari kelas matrikulasi. Sisanya kami bagi dua grup kelas matrikulasi: high and low grades.

Aku melihat satu cewe Vietnam (T) mencoba bertanya dan melihat jawaban temannya.

Suatu hari di tahun 2005

Kejadian sama.

Aku melihat satu cewe Vietnam (Q), 2 cowo Central Asia (N dan A) menyontek.

Suatu hari di tahun 2006

Aku mengawasi ujian satu mata kuliah wajib (core). Aku juga melihat N, K (co Vietnam) dan A mencontek. Aku dalam dilemma. Aku adalah TA dikelas ini. Aku mengajar mereka. Aku tahu kalau N memang agak slow, tetapi A cukup pintar. Kalau aku mengadukan pada prof, celakalah mereka, bisa tidak lulus kuliah disini. Aku memberi peringatan keras di kelas, dan berjalan keliling. Later, I found that some students told me that Q did that as well…

And you know what? Q adalah mahasiswa terpintar di angkatannya. Pinter tapi masih suka nyontek.

Suatu hari di tahun 2007

Aku mengawasi ujian salah satu mata kuliah wajib juga. Lagi2 aku TA disini (mata kuliah yg beda, fuuuhhh capek bo). Aku bisa melihat N (again!) mencoba mencontek. My God. Aku berdiri di depan dan berkata: kalau ada yang berani nyontek lagi, saya akan sampaikan ke prof dan anda bisa di DO dari sini.

I was trying to save him. (In the end dia di-DO juga karena walau udah nyontek tetep aja gak lulus)

Kilas balik beberapa kejadian:

Seorang teman non Indonesia di univ lain berkata spontan: orang Indonesia itu CURANG. (Ya, dia menyebutnya dalam bahasa Indonesia meski dia tidak bisa berbahasa Indonesia). Aku kaget dan tersinggung. Dia menjelaskan: dia mendapatkan kata tsb (curang) dari teman2nya orang Indonesia!

Jadi ternyata orang2 Indonesia yang bejibun kuliah di kampus mereka ini, sudah terbiasa dg mencontek. Contek pr, contek ujian, bahkan contek tesis. I was speechless…

Ada teman2 Indonesia yang hobinya mencela teman2 Indonesia lain yang belajar. Prinsipnya adalah kalau bisa nyontek, kenapa harus jungkir balik belajar? Sadly to say: most of them are government employees.

Tapi aku bisa bersenang hati, karena selain seorang saja temanku dulu yang masuk golongan kuliah ke LN buat jalan2 dan pantang belajar, semua orang Indonesia lain di kampusku tidak pernah nyontek.

Selain nyontek pelajaran, ada lagi kecurangan2 *khas* orang2 dari Negara berkembang. Banyak, ini bbrp contoh:

  1. Manipulasi ongkos transportasi. Mepet temen supaya bisa lolos dari gate kereta tanpa tiket. Jalan jauh pake ongkos minimum dan di tempat tujuan dipinjami kartu langganan kereta punya teman yang lokasinya di sana (case jalan2 beda kota). Beli karcis anak2 buat orang gede :D Anaknya diaku belum 6 tahun sehingga gratis naik kendaraan umum.
  2. Manipulasi biaya layanan publik. Buang sampah elektronik memerlukan ongkos lumayan. Buang monitor, tv, mesin cuci, kulkas, dsb kena sekitar Rp300-500 ribu per item. Solusinya? Buang diem2. Tidak bayar asuransi kesehatan (tetap dapet kartu yang bisa dipakai tapi tagihan dicuekin).
  3. Memanfaatkan barang publik berlebihan. Rutin nyuci dan mandi di kampus. Numpang nyuci di asrama temen. Menghemat heater atau AC di kamar dan spending all night di lounge punya dorm atau kampus.
  4. Lain2: nebeng hak temen (daftar tiket gratis, atau jalan2 pake nama temen di lain dorm misalnya), beli satu menu *all you can drink* dipakai minum buat >1 orang, nebeng hidup di asrama temen untuk jangka panjang, nemu barang orang diambil, dsb.

Tidak semua daftar di atas jatuh dalam wilayah hitam. Ada yang abu2 karena adanya celah hukum, terutama yang no.3. Jujur saja, dulu aku sendiri pernah sesekali melakukannya. Ketika dalam perjalanan cukup jauh dan karcis keretaku hilang di tengah jalan, bukannya ngaku di petugas stasiun, aku malah keluar dg menggunakan karcis tak bertuan yang kutemukan di lantai stasiun. Aku pernah meminjamkan kartu anggotaku untuk teman sehingga dia bisa mendapat diskon. Kalau kuingat2, malu rasanya. Menghemat uang tidak seberapa dan menukarnya dg dosa dan pelanggaran hukum. Belum lagi rasa bersalah yang menempel terus.

Kita juga berpandangan bahwa semua dilakukan demi menghemat biaya hidup yang memang tinggi. Tetapi benarkah? Pelajar di sini hampir semua mendapat beasiswa sebesar gaji fresh graduate disini, tanpa pajak pula. Banyak yang part timer. Isu kekurangan duwit sebenarnya tidak relevan sama sekali. Yang lebih tepat adalah isu sayang duwit. Takut target tabungan Rp8 juta perbulan berkurang kalau tidak curang, kalau bisa nabung Rp12 juta perbulan lewat jalan curang, why not?

Untuk kasus lain, sebagian tiba2 mudah terdorong melakukan kecurangan untuk alasan yang dia tidak terlalu mengerti. Jujur saja, ini kasusku di atas. Ketika aku “menghemat” Rp20-30 ribu dg sedikit berbohong, aku melakukannya bukan karena aku tidak mampu membayarnya, bukan karena aku ingin menabung, bukan karena aku suka… Entah apa. Mungkin karena iman ku sebagai orang Indonesia yang lemah. Alarm yang berdering di hatiku kurang kencang untuk menyetopku melakukannya. Terutama, jika teman2 melakukan hal yang sama. Perlu beberapa waktu sejak aku tinggal di LN, sampai aku bisa say no untuk violate any rule, seremeh apapun rule tsb. (yang susah memang menahan diri dari godaan melanggar rule yang remeh2 ini, secara nilai dan resikonya yg sangat kecil.. padahal ya tetap salah kan)

Mungkin pendapat terakhirku ini tidak didukung statistik sahih, hanya dari berbagai pengalaman berinteraksi dg berbagai bangsa. Yang kebanyakan cenderung menganggap enteng masalah kejujuran adalah bangsa Asia, terutama Indonesia, Vietnam, Cina, Laos, Kamboja, Mongolia, dan negara2 pecahan Uni Sovyet (Uzbekistan, Kazahkstan, Kyrgystan, dsb). Philippines, Malaysia, dan Thailand juga, walau kadarnya tidak “separah” negara2 yang disebut sebelumnya. Orang Asia yang cenderung jujur: Srilangka dan Myanmar.

Banyak yang bilang India dan Arab juga kebanyakan cenderung tidak jujur, tapi karena pengalamanku berinteraksi dg bangsa ini sangat sedikit, aku tidak berani bilang apa2.

Bukan orang bule itu semua jujur. Ada yang curang. Tapi bedanya adalah curanger ini biasanya sadar bahwa tindakan mereka salah dan hina di mata orang lain. Jika ketahuan maka mereka harus terima stigma bahwa mereka adalah crap. Tidak ada harga diri. Jadi yang melakukan contek2 atau nyolong2 ini memang para crap. Dan crap memang ada di mana2 *smile*

“Hebatnya” orang2 yang terbiasa curang (termasuk orang Indonesia): mereka tidak menganggap bahwa perbuatannya itu salah dan hina. Malah bisa2 mereka bangga: hei aku berhasil nonton dg ongkos separo, aku berhasil minum tanpa bayar, aku buang sampah malam2 jadi ngga bayar, aku ga belajar toh lulus juga, dst.

Protes? Silahkan berkaca dg sekeliling kita. Selalu tersedia pemakluman untuk suatu perbuatan curang yang sebenarnya hina ini. Karena itu tak heran, kalau Negara kita ini masih terus menerus berkutat dg masalah korupsi. Gimana nggak, yang mau diberantas dan yang mau memberantas sama2 biasa curang hahaha….

Sebelum menulis ini, aku gugel cerita2 ttg budaya curang di Indonesia. My goodness. Parah. Banyak anak sekolah merasa nyontek itu cool. Kasih jawaban ujian lewat sms malah dianggap kreatif. UAN digawangi kecurangannya oleh banyak sekolah. Aku juga ingat, waktu SMA di Indonesia, sehari menjelang EBTANAS, banyak teman yang sibuk keliling mencari bocoran ujian.

Mahasiswa pun santai aja dg budaya nyontek (tapi jujur tanpa bermaksud membanggakan, bbrp kelas S1 yang pernah kupegang di depok sono, mahasiswanya ngga ada yang nyontek. Mungkin krn kalau ketauan hukumannya keras). Bahkan ada website yang khusus menjual skripsi.

Masuk PNS, nyogok. Masuk polisi, nyogok. KTP palsu. SIM nembak. TKI dicurangi oleh PJTKI dan petugas bandara. Penumpang pesawat yang tidak miskin itu nyolong sendok garpu bahkan selimut dari pesawat. Tamu hotel nyolong handuk hotel. Tukang jualan di pasar pun curang sama pembelinya. Pom bensin kalau bisa curang juga. Meteran taksi juga bisa curang. Keponakan pak RT dan Pak Lurah mendadak jadi orang miskin demi mendapat subsidi dan kartu askes gratis. Orang miskin mendadak jadi gemar ke dokter atau mondok di RS berlama2 karena gratis. Pilkada katanya juga curang.

Rakyat yang sekarang maki2 pemerintah yang korup, pada gilirannya dia punya kuasa (entah jadi anggota dpr, jadi aparat, jadi pns, dapet hibah dari pns, jadi pegawai swasta yg pegang duit dan kuasa) cenderung melakukan hal yang sama. Masalahnya bukan sekedar cukup atau tidak, melainkan sayang melewatkan setiap kesempatan. Terlepas dari kondisi kekayaan dan pendidikan yang bersangkutan, tampaknya banyak yang sadar-tidak-sadar berprinsip: Kalau bisa curang, kenapa harus jujur?

Karena kejujuran itu sering terasa tidak enak bung….

Pemerintah curang, politisi curang, penegak hukum curang, PNS curang, pedagang curang, rakyat curang…

Di Negara ini, susahnya mencari kejujuran…

& Komentar »

  1. Setuju Mas/Mbak. Tapi Indonesia tidaklah melulu berwajah buruk. Masih banyak kebaikan lain. Ayo dong, optimis..

    Komentar oleh kopipahit — Agustus 20, 2007 @ 12:05 pm

  2. @kopipahit:
    Iya, tenang… tulisan2 yang direncanakan muncul ada dalam 2 seri: introspeksi dan prestasi. Ini masih di bagian introspeksi, sama seperti tulisan 17-agustusan kemaren (http://klikdisini.wordpress.com/2007/08/17/suatu-negeri-penuh-kompleksitas-bernama-indonesia/)

    Nanti muncul seri prestasi. Kita memang harus bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan. Dan selayaknya bangga secara proporsional juga. Indonesia banyak bagusnya juga dibanding negara lain :)

    Komentar oleh konsultan — Agustus 20, 2007 @ 4:31 pm

  3. hehehe,jadi inget musim ujian dikampusku pak.
    kalo udah musimnya pasti fotocopy laris manis.
    nyontek memang membudaya banget ya dinegeri kita. tapi memang gak semuanya siy.
    berhubung waktu smp-sma aku sekolah dipesantren modern yang pake sistem asrama, aku jadi gak terbiasa dengan yang namanya nyontek. soalnya jangankan nyontek, mulai lirik kanan-kiri aja, kertasnya udah mulai siap-siap ditarik. apalagi kalo sampe nyontek, hukumannya langsung nilai nol ditempat.
    pernah juga siy, kepikiran mau nyontek, tapi belum apa-apa udah gemeteran. gak ahli siy, hehehe…..
    daripada berkubang dengan rasa gemetar, waswas n macam2nya, gak mau kenalan sama yang namanya nyontek. kalopun kepaksa, cukup aku aja yang dijadikan referensi contekan, hihihi….
    catat, terpaksa:)

    Komentar oleh mataharicinta — Agustus 21, 2007 @ 1:14 pm

  4. mbak, beruntung sekali kalo tidak terbiasa nyontek. Jangan sampe dibuat biasa :D

    kalo sekolah di LN, baik yang ngasih contekan maupun yang nyontek, 2-2nya kena hukuman yang sama. Biasanya fail semua mata kuliah semester tsb. Ngeri kan..
    Tapi lebih ngeri lagi akibat moralnya. Yang terbiasa nyontek biasanya terbiasa juga curang di lini lain (bohong, nipu, korup, dll).

    Oya, yang nulis bagian ini, saya.. cewek :)

    Komentar oleh konsultan — Agustus 21, 2007 @ 2:43 pm

  5. oya, makasih sudah ngasih masukan cerita ttg situasi contek-mencontek di kampus anda. Saya yakin itu bukan cerita aneh di Indonesia.Tapi saya senang ada yang mau sharing fakta ini, supaya bisa jadi cermin bagi kita semua.
    Jadi jangan cuma ngiri sama bangsa lain yang maju, kualitas kita sendiri juga harus dipermak.

    :)

    Komentar oleh konsultan — Agustus 21, 2007 @ 3:18 pm

  6. sekisah kayak mataharicinta :)
    tapi kata orang bahwa kenapa orang Indonesia rata2 begitu karena berada dalam sistem yang kayak gitu.
    Mau merubahnya yah dari Individunya, tapi sekali lagi individu tetap terpengaruh sama sistem yang ada :)

    Komentar oleh aRuL — Agustus 21, 2007 @ 5:50 pm

  7. nyontek sebenernya awal dari korupsi…. tapi balik lagi ke budaya… entah kenapa di beberapa tempat di sini orang menganggap nyontek itu biasa. UAN aja muridnya dibolehin nyontek. Kalo mau memberantas korupsi seharusnya dari kecil sudah mulai diajarin jujur…. termasuk dengan tidak mencontek….
    *jadi malu inget kelakuan pas kuliah dulu :D *

    Komentar oleh itikkecil — Agustus 21, 2007 @ 6:26 pm

  8. @arul
    Makasih atas sharingnya. Karena sistem itu terdiri dari individu, kalau kita pengen merubah sistem ya mulai berubahnya dari individu. Walau tentu saja berjuang melawan arus pasti tidak mudah. Sama2 yuk berjuang.

    @itikkecil
    kapan gedenya? eh salah.. *ingat bebek goreng siy* :D
    emang kenapa waktu kuliah dulu?

    Komentar oleh konsultan — Agustus 21, 2007 @ 7:31 pm

  9. waduh, yang nulis ini mbak tho?
    haduh, maap nyah mbak.
    tak kirain panjenengan itu mas-mas tho:)

    Komentar oleh mataharicinta — Agustus 22, 2007 @ 3:24 pm

  10. @mataharicinta
    hehehe… ngga apa2. Udah sering kok dianggap cowo di milis2 (padahal di milis pake nama asli). Mungkin gaya nulis saya yang kurang feminin hehehe :D

    Komentar oleh konsultan — Agustus 22, 2007 @ 8:57 pm

  11. emang kenapa waktu kuliah dulu?

    suka nyontek soalnya…. :(

    Komentar oleh itikkecil — Agustus 25, 2007 @ 9:39 am

  12. duh, jadi mau maluw…
    ampppunnn… besok2 gag nyontek2 lagi deh… :D

    Komentar oleh didats — September 3, 2007 @ 12:45 am

  13. hehehe…. saya melihat soal nyontek ini karena bangsa kita kurang menghargai kejujuran. Jadi pendidikan etika/pmp/ppkn itu cuma basa-basi saja.

    Lihat saja, pejabat juga tidak jarang yg skripsinya nyontek atau malah ijazahnya beli… Ga heran kalau mudah terpeleset untuk maling/korupsi.

    Tujuan saya nulis posting ini karena saya ingin sekali menambah barisan orang yang menganggap hal ini penting dan menerapkannya dalam hidupnya dan keluarganya. Saya yakin, kejujuran dan kerja keras adalah salah satu modal penting untuk maju.

    Thanks untuk tanggapannya :)

    Komentar oleh konsultan — September 3, 2007 @ 4:36 pm

  14. Mbak Ira,, Ma sama ajaah,, :cry:

    Ma perdana nyontek begitu kuliah, waktu SD-SMA ga pernah,, gara2 kesambet learned helplessness di FK,, waktu smester 2 masih ga bisa, tapi lama lama jadi diajarin anak anak sekelas,,

    Bener deh, pengennya sih ga nyontek, tapi Ma ga bisa ngapal *dan rada ga mau ngapal mati cuma buat ujian aja*,, kalo pake ngerti-nya Ma aja dan ujiannya itu sistemnya range, Ma bakal jeblok nilainya,, :(

    Halaah, no excuse, ga boleh gitu lagi,, :|

    Komentar oleh Rizma — September 4, 2007 @ 6:33 pm

  15. @neen
    keep it up. anda termasuk barang langka di Indonesia :)

    @rizma
    yang penting sekarang ngga lagi yah.. di fakultas tempat saya ngajar di UI bisa kena suspend 1 semester tuh kalo nyontek.
    ntar oktober saya di jkt pasang mata deh.., kali2 kalo lagi minum di cafe deket bunderan pasca/BNI liat Ma lagi ketawa2 sama temen2nya. :D

    Komentar oleh konsultan — September 4, 2007 @ 6:48 pm

  16. Moga moga ga lagi deh,, :(

    kali2 kalo lagi minum di cafe deket bunderan pasca/BNI liat Ma lagi ketawa2 sama temen2nya

    ditunggu, skalian traktir dongg!! :mrgreen:

    Komentar oleh Rizma — September 4, 2007 @ 7:05 pm

  17. @rizma
    traktir? gampang.. apalagi kalo kamu masih puasa :D

    Komentar oleh konsultan — September 4, 2007 @ 7:19 pm

  18. @Rizma
    IMO, kayak tulisan hiruta itu soal keseragaman kolektif… kalau situasinya di sekeliling memungkinkan dan semua orang melakukan hal itu (nyontek) kemungkinan besar kita akan ikut-ikutan dan aku juga pernah terjerumus gini. Tapi memang benar kata mbak konsultan, ini yang akhirnya membuat orang melakukan kecurangan yang lebih besar lagi. Tapi kalau memang ada kesadaran bahwa yang dilakukan itu salah. Walaupun di sekiling kita melakukan itu, kita gak akan ikut-ikutan. Kayak Rizma, buktinya masih ada perasaan bersalah gitu… :D
    Yup…. sayah juga sudah tobat….. tidak mau lagi….
    *maap numpang komen di sini bu….*

    Komentar oleh itikkecil — September 5, 2007 @ 5:43 pm

  19. @ira
    gpp.. gratis ini kok :lol:

    kalo bagi saya, ini adalah pertanyaan ayam dan telur: mana dulu yg harus diberesi, institusi atau orang? Penelitian menunjukkan bahwa kedua pihak at some degree mempunyai efek saling mempengaruhi.
    (note: institusi bukan berarti lembaga, tetapi kesatuan sistem, norma, dan pelaku yg mempunyai regular behavior).

    Sampe sekarang, saya masih lebih percaya bahwa perbaikan yang paling kuat adalah dari individu, sedangkan perbaikan yang potensi hasilnya paling cepat adalah dari institusi.
    *ah ngomong apa nih saya* :lol:

    Komentar oleh konsultan — September 5, 2007 @ 10:41 pm

  20. Sekarang dibalik : kalo bisa jujur, mengapa harus curang? :)

    Komentar oleh Trinie — September 7, 2007 @ 11:46 pm

  21. @trinie:
    kalau sudah begitu pertanyaannya, maka attitude anda sudah diatas rata2 orang Indonesia. Selamat! :)

    Komentar oleh konsultan — September 8, 2007 @ 5:34 pm

  22. Hahahahahahahahahahahahahahahahaha, jujur aku pernah sekali nyontek mata kuliah statistik, hehehehehe Gobloknya aku……….udah nyontek tidak lulus lagi…………., padahal waktu itu gemetarnya ndak karu karuan………………( maklum pertama kali nyontek) hehehehehehe, syukurnya aku gagal dan harus mengulang semester berikutnya……….
    dan aku ingat ada temen yg saat itu aku tahu dia nyontek but…….dia sekarang jadi Pengajar di Almamaterku………..waduh………..pertanda apa nih?

    Komentar oleh Banteng Bertopeng — November 18, 2007 @ 6:43 pm

  23. Artikel yang sangat bagus. Duduk manis, menunggu tulisan menarik lainya. Sekalian juga mohon izin me-link-nya. Salam

    Komentar oleh nyoman.oketo — November 30, 2007 @ 5:36 pm

  24. Memang bangsa ini sudah kacau balau.. Kalau pun masih ada sesuatu yang dianggap sebagai kelebihan bangsa ini, saya menganggapnya tidak seberapa.

    Pendapat subjektif saya bilang kala hal-hal yang tidak baik yang ada pada bangsa ini seperti arus air sungai yang sangat deras karena hujan yang sangat lebat di hulunya.. sedang kelebihan-kelebihan yang dimiliki bangsa ini seperti air tenang yang bergerak pelan sampai-sampai kelihatannya tidak bergerak sama sekali.. Gampangnya, trend hal-hal yang tidak baik sangat luar biasa dan menggerus trend hal-hal yang baik.

    Kenapa? karena sumber-sumber kejelekan tersebut berasal dari filosofi dan cara pandang yang telah menjelma menjadi perilaku dan kebiasaan yang seringkali kita anggap sebagai kultur dan cilakanya harus dipertahankan..

    Salam,

    Komentar oleh ariefgaffar — Desember 7, 2007 @ 1:21 am

  25. Di Indonesia dongeng favoritnya kancil dan buaya, kancil mencuri ketimun, kancil menipu petani. Makanya banyak tukang contek dan koruptor. Kan yang cool adalah maling/menipu tanpa ketangkap :D

    Komentar oleh isadikin — Desember 9, 2007 @ 4:25 pm

  26. @isadikin:
    cool.. ada juga yang ngomentari dongeng kancil tsb.. sepakat mas..
    dari dulu saya juga mikir “kita ini diajar buat jadi culas atau ksatria?”

    Komentar oleh konsultan — Desember 9, 2007 @ 11:26 pm

  27. @Banteng Bertopeng
    semoga temen dosennya dah sadar.. :)

    @nyoman
    salam kenal juga. terima kasih :)

    @arief
    salam kembali.
    saya jadi ikutan cemas :(

    Komentar oleh konsultan — Desember 9, 2007 @ 11:39 pm

  28. kayaknya kebanyakan karena idiom bahwa
    “dia melakukannya maka aku juga boleh”
    dan bukannya :
    “karena dia melakukannya maka kita dibenarkan”

    Komentar oleh nindityo — Mei 12, 2008 @ 2:23 pm

  29. bagus bgt ceritanya dan aku setujuu…
    untung aku gak pernah nyontek…pernah sih dikit2 pas sd…tp skarang slalu aku usahain gak pernah nyontekk…
    tp paling susah tuh klo ada temen yg mo nyontek…ditolak nnt dianya marah, aku kasih tp rasanya gak ikhlas…hahaa…jd suka nyesel sendiri n bingung…

    Komentar oleh visaa — November 9, 2008 @ 2:39 am

  30. PENGALAMAN BURUK ASURANSI KENDARAAN DI PT. ASURANSI WAHANA TATA

    Semoga Anda tidak pernah mengalami pengalaman yang pernah menimpa saya ini. Singkatnya, kendaraan yang saya asuransi secara TLO di perusahaan Asuransi Wahana Tata, hilang dicuri. Dan setelah menjalani proses yang super berbelit, akhirnya PT. Asuransi Wahana Tata mencairkan klaim. Anehnya, pencairan dilakukan 2 (dua) tahap, tanpa melakukan negosiasi apapun dengan Pemilik kendaraan yang hilang. Tahap pertama (jumlahnya tidak jelas), dicairkan kepada Perusahaan Finance tempat saya melakukan kredit. Tahap kedua, dicairkan Rp. 5,4 jt kepada Finance, guna memfasilitasi gratifikasi pengurusan surat-surat keterangan polisi. Akhirnya dari seluruh jumlah klaim, saya hanya mendapat pengembalian lk. Rp. 3,5 jt ; yang artinya tidak lebih besar dari premi asuransi yang telah saya bayarkan; dan juga tidak lebih besar dari sebulan angsuran kredit yang telah 14 kali dibayar, dengan DP sekitar 25% harga ‘on the road’. Inilah pengalaman saya menjadi nasabah PT. Asuransi Wahana Tata. Semoga bermanfaat.

    David, HP. (0274) 9345675
    Pemegang Polis No.03-24-18000197

    Komentar oleh DAVID PANGEMANAN — Maret 11, 2009 @ 2:07 pm


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.