Aku terpana, melihat kota tua ini. Persis seperti gambaran kota2 di Timur Tengah. Tembok putih beige, kotak2 bangunan berdempet, kubah2 menjulang, jalan2 sempit seperti labirin, pagar yang membentengi kota, dan kanal sebagai pertahanan.
Tidak ada mobil yang boleh masuk kota ini. Kami berjalan kaki. Kota yang sangat tenang dan cantik. Perpaduan arsitektur gaya Norman dan Baroque mendominasi gedung2 bersejarah kota ini. Tidak biasa, tetapi unik dan indah. Siang sangat terik, aku teringat bistro di dekat hotel ku yang kami kunjungi kemarin malam. Home made lasagna dan es krim-nya sangat enak.
Sementara supir yang kusewa menerima telfon dari bossnya (keluarga sopir yg hobi ngebut lewat jalan sempit dan berbukit2.. asik kan… aku pernah disopiri sang ayah, anak, dan istrinya). Caw caw, katanya menutup telfon… bahasanya terdengar ditelingaku seperti bahasa Italia atau Turki dengan beberapa pronunciation Arab. Kota ini, bukti silih bergantinya peradaban yang pernah menguasai negara ini. Kristen dan Islam. Pahlawannya mempunyai gelar Knights. Katedral megah, hasil penaklukan kota ini oleh orang2 Normandic.
Kota tua ini, terletak tidak berapa jauh dari ibukota baru yang merupakan percampuran kota abad pertengahan dan modern, dengan pelabuhan yang modern. Sentuhan dari Inggris, Perancis, Turki, Arab, Yunani, Italia, semuanya terasa bercampur di negara kecil ini.
Dan kota itu… bernama Mdina.
Gambar dipinjem dari sini (foto dokumentasi punyaku entah dimana).

negara yang menarik tampaknya. bagaimana caranya ke sana ya? perlu visa? Mdina asalnya dari Medina?
Komentar oleh barista — Agustus 4, 2007 @ 2:30 am
Perlu visa, bisa diurus langsung ke imigrasi malta (online).
Terbang kesana bisa via Eropa, pilihan yang paling umum adalah via Italia atau Frankfurt.
Nama Mdina mungkin sekali asalnya dari Medina.
Komentar oleh konsultan — Agustus 16, 2007 @ 4:44 pm