Suatu Hari Dalam Hidupku

Agustus 29, 2007

Siapa Ketua Ikatan Alumni ITB: demi Prestise, Idealisme, atau Pertarungan Partai?

Diarsipkan di bawah: Hidup sebagai tukang insinyur, Indonesia, Opini, almamater, bandung, introspeksi, itb — kei @ 10:25 pm

aula barat

Tidak lama lagi Ikatan Alumni Institut tertua di Indonesia akan berkongres dan melakukan Pemilu Ketua IA yang baru. Seperti di masa sebelumnya, pemilu IA ITB bukanlah sekedar pemilu ketua paguyuban alumni yang dijadikan ajang menggadang-gadang teman seangkatan buat dijerumuskan menjadi sang ketua. Pemilu IA ITB selalu menjadi ajang pertarungan kekuasaan: prestise dan perebutan massa. Berlebihankah? Tidak sama sekali. Kalau anda alumni atau petinggi parpol, anda pasti mahfum soal ini.

Di berbagai milis, angkatan muda nimbrung dengan segala kepolosannya: berharap banyak pada idealisme, pada suatu keakraban keluarga, pada sumbangan yang akan diberikan bagi almamater dan negara.

Di berbagai milis, calon2 ketua mulai menebar jaring pesona. Ada Betti Alisjahbana, Presdir IBM Indonesia. Ada Johand Dimalouw pensiunan petinggi Chevron. Ada Triharyo Soesilo, putranya pak Soesilo Sudarman, sekarang dirut PT Rekayasa Industri. Nama2 yang dipandang kagum oleh sebagian alumni muda. Role model. Sebagian lagi tidak habis pikir kenapa ada rumor bahwa dua menteri juga berminat? Kurang sibuk apa mereka? Mengapa IA ITB “harus” dipimpin menteri? (Saat ini Laksmana Sukardi yang menjabat sejak 5 thn yl).

Itu di milis.

Pertarungan sebenarnya ada di luar sana. Di kalangan aktivis parpol. Mencoba (lagi…)

Agustus 27, 2007

Berapa ongkosnya kalo pengen rambutmu bergaya ala Harajuku?

Diarsipkan di bawah: non-Indonesia, santai — kei @ 12:32 pm

Karena Jepang adalah Paris van Asia, jadi iseng kami posting tulisan ringan ini..

Anda ingin punya hairdo seperti ini? (http://www.beauty-box.jp/)

hairdo1.jpg

Di Tokyo, anda akan sering berjumpa dg cowo2 dg berbagai profesi yang berpotongan rambut seperti itu. Banyak diantara “salary man” (pekerja kantoran) yang masih muda2 punya hairdo spt itu. Dengan jas dan dasi (pakaian standar pekerja Jpn), rambutnya stylish. Gak kebayang kalo ngantor di Jakarta jadi Junior Engineer misalnya rambutnya dicat, agak panjang, jabrik, dan awut2an kayak gitu.

Kalo yang pernah nonton “Ichi rittoru no namida” (One Litre of Tears), (lagi…)

Agustus 23, 2007

Tokyo yang panassssss….

Diarsipkan di bawah: hidup sebagai teman, jalan2, non-Indonesia, santai — kei @ 10:38 pm

Hufff…. luar biasa deh panasnya. Buyar sebagian besar rencana jalan2ku dalam kunjungan mampirku pada sahabatku -si kontributor di blog ini. Aku ikutan dia ngetem di kamarnya, dg AC on 24 jam sehari. Dia bilang dg kalemnya: “datang ke Tokyo kok Agustus, orang Tokyo aja pada keluar Jepang”

Lanjutnya: “temenku yg orang ostrali aja bilang: di sana kami biasa dapet summer sampe 42C, tapi itu tetap tidak bisa mengalahkan panas tokyo 32C”.

Kenapa panasnya Tokyo lebih panas dibanding Jakarta atau daerah2 lain di Indonesia? (We’ve been in some hot places such as Lombok, Batam, Balikpapan, Surabaya, Riau, but they are nothing compare with Tokyo in summer).

(lagi…)

Agustus 19, 2007

Kalau bisa CURANG, kenapa harus JUJUR?

Dari kontributor:

Suatu hari di tahun 2003

Aku menguap sambil memeriksa hasil ujian mahasiswa yang bertumpuk di mejaku. Hmm.. sebentar lagi selesai. Aku selalu mempunyai 3 kebiasaan pada saat memeriksa ujian:

Pertama, aku menuliskan jawaban setiap soal beserta bobotnya. Itu yang menjadi pegangan pemeriksaan. Maksudnya supaya aku memberi penilaian yang standar untuk semua mahasiswa.

Kedua, aku tidak melihat nama mahasiswa yg berkasnya sedang kuperiksa. Aku tidak ingin sedikitpun ada unsur subjektivitas dalam memberikan nilai (ah yang ini rajin, yg ini yg sering menegur, dsb…)

Ketiga, aku akan memeriksa tidak dalam keadaan emosional (kesal, marah, misalnya) dan sedapat mungkin menyelesaikannya sekali periksa.

Ketika memeriksa jawaban di berkas ketiga dari akhir tumpukan, aku merasa.. déjà vu. Jawaban ini, sudah pernah kubaca sebelumnya. Aku mencari2 di tumpukan yang telah kuperiksa. Got it. Here we go…

(lagi…)

Agustus 17, 2007

Suatu negeri penuh kompleksitas bernama Indonesia

Diarsipkan di bawah: 17 agustus, Indonesia, Opini, Renungan, introspeksi, kemerdekaan — kei @ 3:26 pm

Catatan dari seorang teman (warning: tulisan panjang):

Hari ini 17 Agustus. Jujur saja, aku hampir lupa kemaren tanggal berapa hari ini. Waktuku sekarang berputar di antara kamar ini saja. Duduk di depan pekerjaan yang tidak selesai2. Keluar hanya untuk ke dapur atau belanja sekedarnya.

Tiba2 aku seperti diingatkan serentetan puisi, tulisan, curhat dsb dari banyak orang Indonesia, baik di dalam maupun di LN. Setiap tahun hampir sama. Bangga, sedih, kosong, marah. Jadilah aku ingin menulis dari sisiku.

Pertama, banyak yang menulis kegundahannya akan kondisi ekonomi negara yang dianggap terus terpuruk. Dibandingkan dg masa lalu, katanya “dulu antri beras, sekarang juga. dulu sekolah mahal, sekarang juga. jadi buat apa merdeka?”

(lagi…)

Jatuhnya indeks saham regional: sampai kapan?

Diarsipkan di bawah: Indonesia, hidup sebagai teman, ringan — kei @ 1:42 am

Meski sudah mendengar mulai jatuhnya saham2 di Amerika sejak minggu lalu, aku tidak terlalu perhatian. Ah, paling juga business cycle, pikirku.

Kemudian kudengar kepanikan merambat. Bursa regional mengkerut semua. Tak terkecuali Nikkei, Hang Seng, juga JSX. Yen terapresiasi. Rupiah terdepresiasi.

JSX Composite dalam 5 hari terakhir jatuh dari 2211.56 ke 1908.64.

Kasihan, barusan kemaren JSX dibilang bullish.

(lagi…)

Agustus 15, 2007

Updated: Bupati Indramayu Seksis dan Berotak Udang?

Diarsipkan di bawah: Indonesia, kacau, pelecehan — kei @ 2:35 pm

Baca ini hari ini:

Beredarnya video mesum yang diperankan sepasang pelajar SMA di Indramayu, membuat gerah Bupati Indramayu dan pejabat muspida lainnya. Bupati H Irianto MS Syarifudin lalu bikin gebrakan akan memeriksa keperawanan sekitar 3.500 siswi SMP dan SMA atau sederajat di seluruh Indramayu.

“Pemeriksaan bertujuan memberitahukan orangtua siswa soal status keperawanan anak gadisnya,” ujar Bupati Indramayu H Irianto MS Syarifudin di sela-sela pembakaran 2.600 buku sejarah di Kantor Kejari Indramayu, Selasa (14/8).

ADAKAH BUPATI LAIN YANG LEBIH DISKRIMINATIF, SEKSIS, DAN BEROTAK UDANG DIBANDING BUPATI INI?

Updated by the team:

Bagaimanakah tingkat kesejahteraan Kabupaten Indramayu secara relatif dibanding kabupaten lain di Jabar dan Indonesia?

1. Ranking HDI (Human Development Index) merosot dari 269 ke 303. Total kabupaten di Indonesia untuk data ini adalah 341.

2. GDI-nya (Gender Development Index) ada di urutan buncit diantara 26 kabupaten/kota se Jabar atau ranking 325 di seluruh Indonesia.

3. Tingkat melek hurufnya hanya 76%, termasuk yang terendah di Indonesia.

4. Tingkat pendapatan riil per kapitanya no 3 tertinggi di antara semua kabupaten di Jabar (setelah Bekasi dan Depok) TETAPI dengan tingkat melek huruf dan ranking HDI terendah di Jabar, dan tingkat kemiskinan tertinggi di Jabar (bahkan among the lowest di Indonesia).

5. Persentase balita underweight (24.6%) no 2 tertinggi di Jabar (setelah Cirebon) dan persentase balita kurang gizi (undernourished) ada di ranking 3 dari buncit.

6. Ranking 6 di Jabar untuk AKB (angka kematian bayi/Infant Mortality Rate).

Singkatnya, tingkat kesejahteraan terutama anak dan perempuan di kabupaten Indramayu ini memang memprihatinkan.

Nah sekarang Bupatinya, alih2 memperbaikinya, malahan menambah parah dengan niat melakukan kekerasan terhadap anak2 (perempuan).

Apa yang harus dilakukan pada Bupati ngawur bin dodol ini?

Tambahan link berita lama yang relevan:

http://www.gatra.com/2002-10-08/versi_cetak.php?id=21179

“Seiring dengan perjalanan waktu, maka sejak 1970-an, perempuan Indramayu mulai meramaikan dunia pelacuran di Jakarta. Banyaknya wanita Indramayu yang melacur belakangan ini, menurut Supali, bukan semata-mata karena faktor kemiskinan. Melainkan disebabkan rendahnya standar moral sejumlah anggota masyarakat.

Masih banyak orang Indramayu, kata Supali pula, beranggapan bahwa perempuan menjadi pelacur bukan aib. Malah ada yang menganggap anak perempuannya yang berwajah cantik sebagai aset yang bisa dijual. “Maka jangan heran, kalau ada kasus orangtua dari Indramayu mengantarkan anaknya bekerja di tempat pelacuran Jakarta,” Supali menegaskan.

Pendapat senada juga diungkap Kepala Desa Bongas, Sukara, 50 tahun, yang secara jujur mengakui desanya menjadi pemasok wanita pekerja seks ke beberapa tempat di Jakarta, dan bahkan ke luar negeri. Penyebabnya, tingkat pendidikan warga masih sangat rendah. “Sebagian besar warga di sini cuma lulus SD,” kata Sukara.

Anak-anak Bongas, sebagian besar enggan melanjutkan ke SLTP, karena menurut Sukara, di desanya tidak ada SLTP. Untuk meneruskan ke SLTP, anak-anak Bongas harus menempuh jarak sekitar lima kilometer. Karena lokasi SLTP jauh, anak-anak jadi malas meneruskan sekolah.

Selain itu, anak-anak juga melihat kakaknya bisa hidup makmur setelah menjadi pelacur. Meski mereka tak sekolah. “Mau lulus SD, lulus SMA, toh nanti juga akan kerja ke Taiwan atau Jepang. Jadi mereka pikir buat apa sekolah tinggi-tinggi,” kata Sukara, prihatin.”

Bukankah Pak Bupati punya PR yang jelas tidak akan selesai dg periksa keperawanan?

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.