Suatu Hari Dalam Hidupku

Juli 30, 2007

Masyarakat Materialistik

Diarsipkan di bawah: matre, pekerjaan — kei @ 1:31 pm

Intro:

PNS A: Seharusnya kita naik gaji lebih tinggi! Di swasta aja fresh graduate udah 5-12 juta lho!

Aku: Ya sudah, kamu berhenti aja jadi PNS dan melamar ke swasta minta gaji 12 juta. Mau ngga?

*asal njeplak loe… ga liat banyak pegawai swasta bertahun2 masih digaji sedikit diatas UMR?*

=======================================================================

Disclaimer: ini bukan generalisasi, tentu saja ada PNS dan dosen yang tidak termasuk golongan yang disebut dibawah ini.

Makin hari makin sering aku melihat membaca isi pikiran dan berbincang dg orang2 yang matre. Dan mereka orang ID.
Bandingin gaji, bandingin harta.

Pekerjaan dianggap hebat jika gajinya semakin tinggi. Bukan melihat apa yang sesungguhnya dikerjakan.

Sampai2 anak2 baru lulus kuliah yang belum bisa apa2, sudah mengeluh duluan melihat gaji yang ditawarkan perusahaan.

Dosen jadi minder karena gajinya tidak setinggi teman2 kuliahnya yang jadi senior manager.

PNS non-depkeu iri dg PNS depkeu yang naik gaji cukup dahsyat. PNS iri dg pegawai swasta. DPR iri dg direktur bank BUMN. Masing2 orang menganggap diri mereka yang paling hebat sehingga harus mendapat gaji yang paling top pula. Pengen nanya: Loe dah pada ngerjain apa sih buat negara? Lupa ya kalau digaji pake duit rakyat?

Obrolan cowo2 PNS di departemen basah itu: mobil baru, rumah baru. Banyak kenyataan bahwa PNS umur 30-an sudah bisa bawa BMW X5 ke kantornya (bukan hadiah dari bokapnya). Jadi ingat cerita ini. Batak atau bukan, orang kita banyak orang memang cenderung korupsi jika ada kesempatan. Apalagi sistem dan hukum di ID yang sangat mudah dikadalin. Seorang Rokhmin Dahuri dihukum 7 tahun malah dibelain oleh Din dan Tifatul. Eneg aku bacanya.

Itulah yang bikin orang lebih mudah lagi untuk korupsi. Karena dg duitnya dia bisa membeli banyak hal: kekuasaan, pemuja, sex, kemewahan, citra, bahkan hukum. Orang yang dianggap diklaim proclaim ngerti agama aja mau belain koruptor. Hiiiihh…

Siapa sih yang ngga ingin kaya? Tapi kok seakan kekayaan adalah satu2nya tolok ukur kesuksesan. Padahal kekayaaan seharusnya hanya dampak dari kesuksesan. Buat apa kaya kalau dari korupsi? Dari membodohi orang lain? Dari kerja yang menyedot semua waktu berharga dalam hidup kita?

Yang menyebalkan, aku jadi ikutan terpengaruh. Sedikit banyak, aku memikirkan berapa penghasilan yang seharusnya ku raih satu tahun mendatang ini.

Ah, damn! I should care less about it. Yang penting menikmati hidupku dulu dg hal2 yang bermanfaat.

Jangan sampai lupa bahwa kesehatan adalah rezeki yang sangat besar. Keluarga yang baik adalah harta yang kemilau. Bersedekah… ya aku kurang bersedekah! Orang2 yang bersedekah lah sesungguhnya adalah orang2 yang kaya.

Ayo kerja keras. Ayo sukses. Ayo kaya dg wajar.

Jangan minder kalau belum sekaya orang lain. Di atas langit ada langit.

Bukankah menjadi dosen atau PNS yang jujur dan kompeten, sebenarnya pekerjaan yang patut dibanggakan juga?

Tuhan memberi kita kelebihan supaya kita bersyukur, dan memberi kita kekurangan supaya kita tidak sombong.

& Komentar »

  1. efek dominonya yang dikhawatirkan. masyarakat kita kan awalnya suka hidup guyub, bergotong royong dst yang humanis dan komunal. dengan merebaknya gaya hidup matre, mayoritas kedodoran. akhirnya menghalalkan segala cara.

    Komentar oleh bumisegoro — Agustus 10, 2007 @ 5:02 pm

  2. Bener. Kalau mau jujur, sebagian besar orang kita itu imannya tipis sekali. Norma-pun sama tipisnya. Iming2 uang dan kekayaan mudah merubah sisi malaikat menjadi sisi setan.

    Komentar oleh konsultan — Agustus 14, 2007 @ 10:49 pm

  3. iyaaaaaaaaaaaa benerrrr!!!

    Komentar oleh lia — Mei 27, 2008 @ 4:55 pm


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.